Breaking News

Viral di Desa Ciakar Cijulang, Pangandaran ada Manusia Masih Hidup Dinyatakan Sudah Meninggal


Global-hukumindonesia.com, Pangandaran - Kasus penggelapan nama yang dilakukan oleh Almarhum Osid suami dari Mak Marsih dan anehnya itu berdasarkan persetujuan dari kedua anak tiri yang bernama, Ade Rohidin lahir di Ciamis, 15 Mei 1970, yang beralamatkan di Dusun Cisodong, RT 007/004, Desa Ciakar, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, dan saudaranya, Juhanda kelahiran Ciamis 02 September 1962. Apa Maksud dan motifnya mereka melakukan penggelapan nama Mak Marsih?

Menurut Heru, "berdasarkan dari pengakuan istri dari almarhum Osid tersebut yaitu Mak Marsih. Ketika dimintai keterangan lewat video waktu klarifikasi serta konfirmasi kepada Mak Marsih tersebut. Saya sengaja dibuatkan video untuk bisa memperbantukan Mak Marsih Karena untuk yang bersangkutan tidak mempunyai data, baik KTP ataupun KK dan yang lainnya maka dari sana kita sepakat membuat video untuk bisa memahami kemauan dari Mak Marsih tersebut sesuai dengan angkat kuasa yang diberikan kepada Kami”, bebernya.

Terkait dengan beredarnya hingga sampai viral pengakuan dari Mak Marsih tersebut menggegerkan daerah Pangandaran khususnya di desa Ciakar, kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran. Rabu, 01/05/2024.

Adapun yang jadi bahan pertanyaan kok bisa wanita yang sudah berumur ini dinyatakan Meninggal, dan tidak tercatat di pemerintahan baik di desa ataupun di disdukcapil yang umum dan sewajarnya, sesuai dengan warga masyarakat yang lainnya yang memiliki, baik KTP ataupun KK karena jelas ketentuannya.

Pasal 63 Undang-Undang ini menegaskan, penduduk Warga Negara Indonesia dan Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang telah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin atau pernah kawin wajib memiliki KTP Elektronik (KTP-el). KTP sebagaimana dimaksud berlaku secara nasional.

Dengan dimatikannya nama Mak Marsih ini hingga membuat Mak Marsih kebingungan, "kok bisa bisanya padahal saya kan masih hidup, kok bisa sampai dimatikannya dari warga Indonesia", ucapnya bingung.

Di sini kita bisa menilai bahwa Masih kurangnya rasa kepedulian sesama, terlebih dari perangkat pemerintahan setempat, dan sebagai warga Indonesia wajib memiliki surat menyurat jangan sampai dibilang bodong.

Pemerintahan desa tersebut membenarkan, bahwa Mak Marsih tidak tercatat di pemerintahan baik di desa kecamatan dan Kabupaten, Pangandaran.

Sehingga ketika mendapatkan berita akan adanya bantuan-bantuan dari pemerintahan baik yang namanya BLT, PKH dan lain-lain, karena tidak memiliki kartu tanda pengenal (KTP) Mak Marsih belum pernah mendapatkan sama sekali padahal memang jelas warga yang bisa dikatakan membutuhkan.

Saat ini berkat adanya bantuan sekalian untuk meluruskan guna mendapatkan KTP yang diperjuangkannya, sekarang Mak Marsih memiliki KTP sementara yang dibuatkan oleh kepala desa langsung sesuai dengan foto ataupun keterangan di bawah ini. 

Tambahnya, ”Sempat Mak Marsih bikin laporan LP di kepolisian Polsek cijulang, terkait penggelapan nama, yang dipandang perlu menurut Heru jadi terungkap semuanya", tuturnya.

Diharapkan dengan adanya kejadian ini tidak terulang lagi, pihak Pemerintahan Desa atau Kelurahan pendata warga, seharusnya tahu warganya yang telah wafat ataupun yang masih hidup, sehingga tidak menghilangkan hak warga negarannya. (Yudhi Dewa)
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - GLOBAL HUKUM INDONESIA