Breaking News

Tak ada di Manuskrip, Raden Bukan Gelar Bangsawan


Global-hukumindonesia.com, Sukabumi - Gelar raden biasanya diidentikkan dengan gelar kebangsawanan. 

Mereka yang memiliki gelar Raden merupakan keturunan raja, namun tidak demikian bagi KH. Abdul Hannan Ihsan. Menurut ketua Lembaga Pencatat, Pemelihara,dan Penelitian Silsilah NAAT (LP3SN) ini, gelar raden justru lebih dekat dengan keturunan ulama,seperti apa penjelasannya?
KIAI Abdul Hannan tidak mau
main-main dalam meneliti, mencatat, dan memelihara nasab Wali Sanga di nusantara.

Ketua LP3SN ini harus berkeliling Indonesia untuk menelaah beberapa manuskrip yang dimiliki para keturunan Wali Sanga. Sejumlah kesulitan pun dihadapi. 

Salah satunya tradisi sebagian masyarakat Madura dalam memperlakukan manuskrip.
Menurut dia, banyak orang Madura yang salah dalam memaknai manuskrip. Peninggalan berupa tulisan zaman daluhu sering dianggap sebagai jimat. Sehingga, jangankan untuk membacanya,menyentuhnya saja mereka tidak berani. 
Karena barang itu dianggap sesuatu yang keramat atau sakral.

Suami dari Nyai Suryati itu mengatakan, "bahwa pola pikir seperti itu harus diubah,menurutnya, penginggalan para leluhur sebetulnya untuk dipelajari oleh anak cucu, bukan untuk disimpan", ungkapnya.

"Dengan begitu, kita yang ada di zaman sekarang bisa memahami seperti apa kondisi zaman dulu,termasuk dalam hal nasab atau silsilah keturunan", jelasnya.

Suatu ketika Kiai Abdul Hannan menjumpai peristiwa yang menurut dia lucu,ada lembaran manuskrip yang disobek kemudian dijadikan jimat untuk anaknya yang hendak merantau supaya sukses, dan Akhirnya peninggalan para sesepuh itu tak berguna untuk mengurai silsilah. 

"Ada pula yang dibungkus sampai lapuk, Sampai hancur luar biasa,gak boleh dibuka", ungkap kiai yang sudah dikaruniai 3 anak itu.

Kisah tersebut tak jauh berbeda dengan pengalaman di keluarganya sendiri. 

Namun, setelah lama tersimpan, akhirnya Kiai Abdul Hannan memberanikan diri membuka dan mempelajari manuskrip yang ada di rumah kakeknya.

Ternyata isi manuskrip tersebut membuka mata pengetahuan dan luar biasa bermanfaat.

Manuskrip itu tidak hanya mengungkap silsilah keluarga Kiai Abdul Hannan,akan tetapi mencakup silsilah kiai di Pamekasan dan Bangkalan. 

Bahkan, silsilah kiai-kiai tanah Jawa juga tercantum.

Seperti Kiai Slaseh (sesepuh KH Maimoen Zubair Sarang di Kecamatan Klampis, Bangkalan),dan Kiai Kasan Besari (Ponorogo). 

Dari catatan-catatan itulah ada Kiai Ponorogo. ”Lalu kami cari anak cucunya, akhirnya nyambung,bahkan, saya juga sampai ke Kalimantan", terang pengasuh Ponpes Al-Ihsani, Desa Sendang Dajah, Kecamatan Labang, Bangkalan, tersebut.

Kiai Abdul Hannan yakin dengan terpeliharanya silsilah atau nasab maka banyak manfaat yang bisa diperoleh. Dengan mengetahui nasab manusia itu bisa saling terkait. 
Bahkan bisa menjadi solusi ketika ada konflik. ”Contohnya, saya dengan Sampean ada konflik,tapi kemudian saya tahu bahwa saya dan Sampean ternyata satu jalur, akhirnya adem hati ini,Oh, ini masih famili saya", jelasnya.

Dia kemudian mengingatkan tentang tragedi berdarah di Sampit, Kalimantan Tengah, pada 2001. Semestinya hal tersebut tidak terjadi andai kedua pihak memahami sejarah kedekatan Madura dengan Kalimantan pada masa lalu.

Kiai Abdul Hannan mengungkapkan, dari garis ibu, Sultan Abdurraham Al-Qadri atau pendiri Kesultanan Pontianak merupakan Suku Dayak. Sedangkan dari pihak ayah berasal dia dari golongan habaib yang bernama Syarif Husein. Nah, habaib ini erat hubungannya dengan Madura.
"Bahkan, nisan Syarif Husein didatangkan dari Sumenep sebagai hadiah dari Pangeran Natakusuma", ungkapnya sambil menunjukkan video saat dirinya berziarah ke makam Syarif Husein.

Pada nisan tersebut, lanjut Kiai Abdul Hannan, tertulis tahun 1781. Itu artinya sepuluh tahun setelah pendirian Kesultanan Al-Qadri di Pontianak. 

"Seandainya masyarakat Dayak dan Madura tahu sejarah itu, insyaallah tidak akan terjadi konflik. Bahkan, Pangeran Natakusuma memberi gelar Sayiddil Habib kepada Syarif Husein", bebernya.

Dalam pembicaraan itulah, Kiai Abdul Hannan menjelaskan tentang istilah gelar Raden yang selama ini identik dengan keturunan raja. Menurut dia, gelar raden populer setelah zaman Wali Sanga. Tetapi, dalam manuskrip tidak ada kata Raden. (Hadi)
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - GLOBAL HUKUM INDONESIA